Archive for the ‘TAKENGON’ Category

Dataran Tinggi Gayo

Posted: 2 November 2011 in TAKENGON

Kota Takengon yang berada di dataran tinggi Gayo, merupakan kota tujuan wisata di Nanggroe Aceh Darussalam. Keindahan alamnya seperti tersembunyi karena berada di tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Objek wisata alam yang terkenal di sana adalah Danau Laut Tawar, yang menjadi kebanggaan masyarakat Takengon. Sebagian aktivitas masyarakat sekitar danau adalah sebagai nelayan. Ikan Depik [Rasbora Tawarensis], merupakan ikan khas danau laut tawar Aceh Tengah.

Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Takengon, mengunjungi dan menginap di sekitar Danau Laut Tawar. Selain objek wisata Danau Laut Tawar, terdapat tempat-tempat wisata lainnya di Kota Takengon, seperti Gua Puteri Pukes, Pantang Terong, pemandian air panas Wih Pesam, Bukit Terong (Puncak Khafi), Goa Loyang Koro, Pantai Menye, Pantai Ketibung dan Monumen Pacuan Kuda Tradisional [Evant ini biasanya dilakukan pada saat hari kemerdekaan]. Setidaknya ada 20 objek wisata yang dapat dikunjungi di Kota Takengon. Khusus mengenai perlombaan pacuan kuda, para jokinya biasanya anak usia sekolah. Mereka secara alami terlatih dan berani tanpa menggunakan pelana, yang hanya memakai kaus dan celana pendek berkuda dengan kencang.

Penduduk asli Takengon adalah Suku Gayo. Mereka merupakan keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa daerahnya pun berbeda dengan bahasa daerah penduduk Aceh pada umumnya. Kota Takengon berhawa sejuk dengan keindahan alamnya yang luar biasa, dan berada di kawasan dataran tinggi Gayo. Komoditi-komoditi unggulan yang dipasarkan di Kota Takengon adalah komoditi-komoditi yang berasal dari dataran tinggi Gayo, seperti kopi Gayo (kopi arabika) yang terkenal yang diekspor ke Jepang, Amerika dan Eropa, tomat, markisa, sayur-sayuran, jagung, cabe dan kentang. markisa, tomat, cabe, jagung, sayur-sayuran, jeruk keprok Gayo, alpukat, tembakau dan damar.

Untuk mecapai lokasi ini, bisa ditempuh dari dua wilayah, 1). Banda Aceh, Dari terminal di banda aceh bisa dengan Travle [L300] dengan biaya sebesar 75.000 rupiah langsung ke takengon. Perjalanan kurang lebih sekitar 6-7 jam perjalanan. 2). Via Medan, dari polonia naik ojek atau taxi kearah jalan gajahmada, ongkos untuk Ojek Sekitar Rp. 25.000 – 30.000, dengan Taxi bisa mencapai Rp. 45.000 – 55.000. Dijalan gajahmada cukup banyak Perusahaan bus yang menyediakan jasa angkutan sampai Takengon. Biaya yang diperlukan untuk ke takengon dari medan sekitar Rp. 150.000 [Bus Cepat Bangku 2:1] saya merekomendasikan naik CV. Kurnia. Kenapa? Armadanya baru-baru, aman, lancar dan nyaman banget.

Setiba di takengon, cukup banyak losmen murah, dengan harga kisaran Rp.80.000 – 150.000 per malam, ada juga Hotel yang lumayan mahal, kisaran harga Rp. 250.000 – 400.000 [Ringgali]. Dan berikut ini adalah foto2 keindahan dataran tinggi gayo. Sebagai catatan, foto ini menggunakan kamera Canon 350D, Lensa Tokina 12-24, Filter Hoya UV Rim 77MM, Tripot UFU 260.

Dari kejauhan, danau laut tawar laksana wadah air yang dikelilingi perbukitan dan gunung. Perbukitan itu terlihat hijau oleh hutan pinus, sawah, dan kebun rakyat. Untuk menuju danau tersebut, kita bisa menempuh lewat jalan darat dari Banda Aceh sejauh sekitar 300 kilometer. Perjalanan melewati tiga wilayah kabupaten. Yaitu, Pidie, Bireuen, dan Bener Meriah.

Banyak kendaraan yang siap menempuh jalur tersebut. Misalnya L-300 dan bus. Kita juga menempuh dengan jalur udara dari Banda Aceh ataupun Medan. Tujuannya adalah Bandara Rembele di Bener Meriah.

Pemerintah Daerah Aceh Tengah telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung bagi wisatawan yang menikmati liburan di Datiga. Hotel berstandar mudah didapat di seputaran Kota Takengon yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer menuju danau.

Ada juga beberapa hotel yang dibangun persis di pinggir danau. Yang ingin merasakan suasana alami dan petualangan bisa mendirikan tenda di beberapa camping ground yang disediakan di pinggir danau.

Atraksi utamanya adalah berperahu keliling danau. Yang gemar bersepeda gunung bisa berkeliling di perbukitan yang mengitari danau tersebut. ”Udaranya bersih dan pemandangannya bagus. Tawaran yang baik untuk penggemar fotografi,” kata seorang wisatawan penggemar sepeda gunung.

Titik yang paling banyak dikunjungi wisatawan adalah kawasan Ujung Paking di Kecamatan Bintang. Kawasan di sisi utara danau itu menawarkan wisata agro dengan berkunjung ke kebun apel atau anggrek.

Sebagai kawasan pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter dpl, udara Takengon terbilang dingin. Di pagi hari, kabut tipis yang menyelimuti perbukitan tersebut memunculkan pemandangan yang memesona saat matahari terbit. Demikian juga saat matahari terbenam.

Ketika bersiap pulang, wisatawan bisa membawa oleh-oleh khas masyarakat Gayo, yaitu ikan depik (rasbora tawarensis). Ikan tersebut konon hanya ada di Danau Laut Tawar.

Selain membawa ikan depik sebagai oleh-oleh, wisatawan bisa membawa berbagai produk hasil bumi Gayo seperti kopi, sayur-mayur, dan sulaman khas tradisional Gayo, kerrawang. Sulaman kerrawang yang merupakan ciri khas masyarakat Gayo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mulai dompet, tas, peci, baju, hingga celana kerrawang.

Sejarah

Zaman Penjajahan Belanda

Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan Kopi dan Damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya Sayuran dan Kopi.

Zaman Penjajahan Jepang

Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.

Zaman Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten.

Kabupaten Aceh Tengah berdiri pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Kewedanaan Gayo Lues, dan Kewedanaan Tanah Alas.

Pemekaran Wilayah

Sulitnya transportasi dan didukung aspirasi masyarakat, akhirnya pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Aceh Tenggara melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1974. Kemudian, pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah tetap beribukota di Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong.

Iklan